Timbulan sampah medis naik 200% di Jakarta sejak Juni

0


Jakarta (ANTARA) – Volume limbah bahan berbahaya dan beracun atau limbah medis yang dihasilkan di Jakarta melonjak hingga 200 persen sejak Juni tahun ini saat gelombang kedua kasus COVID-19 melanda ibu kota, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta melaporkan.

Limbah medis tersebut terdiri dari alat pelindung diri bekas, hasil tes swab antigen PCR, dan limbah vaksinasi, katanya.

“Bisa meningkat hingga lebih dari 200 persen dari rumah sakit saja, karena beberapa rumah sakit memang dirancang khusus untuk menangani kasus COVID-19,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3B) Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Rosa Ambarsari di Jakarta, Senin.

Berita Terkait: Indonesia ciptakan teknologi daur ulang sampah medis COVID-19

Menurut Ambarsari, peningkatan sampah medis terjadi akibat masuknya pasien di rumah sakit dan pusat isolasi saat gelombang kedua kasus COVID-19 melanda Jakarta pada Juni lalu.

Volume sampah vaksinasi, seperti jarum suntik, juga meningkat seiring dengan semakin gencarnya program vaksinasi massal oleh Pemprov DKI Jakarta.

Dinas Lingkungan Hidup harus bekerja keras untuk menangani lonjakan limbah medis yang tidak hanya berasal dari rumah sakit tetapi juga posko pelayanan kesehatan masyarakat, tambahnya.

“Awalnya kami tidak terlalu siap menangani sampah yang datang dari pusat-pusat isolasi dan rumah tangga secara tiba-tiba,” katanya.

Berita Terkait: Menhub uraikan rencana pengelolaan sampah medis di tengah pandemi

Berita Terkait: Peneliti LIPI mengubah limbah masker menjadi produk bernilai ekonomis

Leave A Reply

Your email address will not be published.