Sidang Parlemen Lebanon Tertunda Akibat Listrik Padam

0


Krisis ekonomi Lebanon semakin dalam

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT — Anggota parlemen Lebanon melakukan sidang pada Senin (20/9) untuk mengesahkan pemerintah baru. Sidang sempatkan untuk menyusul pemadaman listrik dan generator yang membatalkan dan menunda dimulainya sesi parlemen.

Butuh waktu sekitar 40 menit sebelum listrik kembali menyala. Insiden itu, yang menggarisbawahi krisis mendalam yang terjadi di Lebanon di tengah krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dicemooh di media sosial.

Anggota parlemen akan memperdebatkan kebijakan pemerintah baru sebelum mosi dipercaya diadakan pada Senin malam. Pemungutan suara diharapkan memberi dukungan kebijakan Kabinet yang diusulkan Perdana Menteri baru Libanon, Najib Mikati

Mikati, salah satu pengusaha terkaya Lebanon yang kembali ke jabatan perdana menteri untuk ketiga kalinya, akan segera bekerja untuk meringankan penderitaan rakyat Lebanon sehari-hari.

“Apa yang terjadi di sini hari ini dengan pemadaman listrik tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang telah diderita rakyat Lebanon selama berbulan-bulan,” kata Miikat kepada anggota parlemen setelah listrik kembali menyala dan sidang dimulai, sebagaimana dilansir dari Berita Arab, Senin (20/9).

Sesi diadakan di teater Beirut yang dikenal sebagai istana UNESCO sehingga anggota parlemen dapat mengamati langkah-langkah jarak sosial yang diberlakukan selama pandemi virus corona. “Apa yang bisa saya katakan, itu lelucon,” kata anggota parlemen Taymour Jumblatt, putra pemimpin Druze Walid Jumblatt, ketika ditanya tentang pemadaman listrik.

Pemerintahan baru yang dipimpin oleh pengusaha miliarder Najib Mikati akhirnya dibentuk awal bulan ini setelah tertunda 13 bulan. Pemerintah baru diharapkan melakukan reformasi yang sangat dibutuhkan, serta mengelola dan mengajukan gugatan ke publik akibat pencabutan subsidi bahan bakar pada akhir bulan. Cadangan devisa Lebanon sangat rendah, dan bank sentral di negara yang bergantung pada impor itu mengatakan tidak lagi dapat mendukung program subsidi senilai 6 miliar dolar AS.



Leave A Reply

Your email address will not be published.