Selesaikan Polemik GLOW, Serap Aspirasi Budayawan

0


Cahaya dapat merusak ekosistem di KRB yang merupakan marwah konservasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Sempat dikritisi oleh lima mantan Kepala Kebun Raya, kali ini atraksi malam GLOW di Kebun Raya Bogor (KRB) turut ditolak oleh budayawan Kota Bogor. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menginisiasi pembentukan tim kecil, untuk mengakomodasi aspirasi budayawan yang menolak GLOW.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menuturkan, ada beberapa hal yang disampaikan dalam aksi GLOW kepada pihak yang khusus, khususnya pengelola KRB sendiri. Nantinya, tim dari Pemkot Bogor akan menampung dari budayawan kepada pihak KRB.

“Kita sifatnya menjembatani aspirasi. Akan dibuat sebuah tim atau kepanitiaan, nantinya kita akan akomodasi untuk menampung lebih konkret lebih detail apa saja pokok-pokok pikiran yang harus kita sampaikan kepada menemui para pengunjuk rasa di Balai Kota Bogor, Rabu (13/10) ).

Dedie berharap, dibentuknya tim tersebut bisa mengakomodasi pokok permasalahan dan hal yang menjadi alasan. Sebab, jika berlarut-larut kepemimpinan bisa ditunggangi dan menjadi kontraproduktif.

Di sisi lain, Dedie menilai, keberadaan KRB untuk Pemkot Bogor tentunya menguntungkan sebagai penerima manfaat. Hanya saja, memang ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan lebih kepada masyarakat terkait dengan perubahan KRB. KRB Lantaran juga milik masyarakat banyak.

Sementara, salah satu budayawan yang menolak aktrasi glow, Cecep Thorik mengapresiasi Wakil Wali Kota Bogor untuk membuat tim kecil. “Hanya saja, ketika tim kecil bekerja, KRB menjadi status quo sehingga tidak boleh ada kegiatan lampu-lampu pada malam hari,” katanya.

Cecep menyebut, aksi penolakan itu diinisiasi budayawan dari Cirebon, Banten, dan tokoh-tokoh di Bogor. Adapun tuntutannya, dari para pengunjuk rasa meminta agar atraksi malam GLOW tidak dilakukan. Lantaran dapat merusak ekosistem di KRB yang merupakan marwah konservasi.



Leave A Reply

Your email address will not be published.