Perdana Menteri Jepang yang Baru Harus Bekerja Cepat

0


Perdana Menteri Jepang berikutnya memiliki tugas yang berat

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO — Perdana Menteri Jepang yang berikutnya memiliki tugas yang berat. pengganti Yoshihide Suga yang dipilih Rabu (29/9) ini harus mengatasi depresi ekonomi karena pandemi, menjalankan peran militer yang lebih besar saat negara-negara tetangga semakin berbahaya, dan memperkuat hubungan dengan para sekutu.

Pemilihan Ketua Partai Demokrat Liberal biasanya dilakukan dalam negosiasi ruang tertutup. Pemilihan kali ini dijanjikan pemilihan lebih terbuka. Karena partai itu menguasai parlemen maka ketuanya akan menjadi perdana menteri.

Siapa pun yang menang harus segera membawa ide segar untuk menarik dukungan publik. Terutama karena parlemen pemilihan majelis rendah akan dilakukan dua bulan lagi.

Dua perempuan yakni Sanae Takaichi dari faksi animasi dan Seiko Noda dari faksi liberal bersaing dengan menteri vaksin Covid-19 Taro Kono dan mantan menteri luar negeri Fumio Kishida. Takaichi yang mendapat dukungan dari mantan menteri Shinzo Abe dan pandangan pertama yang menyambut dan revisi mendapat dukungan dengan cepat. Sementara kesempatan Noda memilih memudar.

Pengamat politik mengatakan dukungan Abe pada Takaichi adalah upaya untuk memperbaiki citra partai yang dianggap seksis. Selain itu juga untuk memecah suara Kono yang dianggap eksentrik dan reformis.

Menurut pengamat politik dari Universitas Tokyo, Yu Uchiyama, perdana menteri baru tidak akan melakukan banyak perubahan kebijakan. Semua kandidat mendukung kerja sama keamanan Jepang-Amerika Serikat. Para kandidat selain memiliki pandangan serupa mengenai negara-negara demokrasi di Asia dan Eropa, untuk menahan pengaruh Cina yang tumbuh di banyak kawasan.

Kono dan Kishida adalah mantan diplomat tinggi. Dua kandidat itu dan dialog dagang dengan Cina sebagai negara tetangga dan mitra yang penting. Sementara keempat, mendukung juga ‘hubungan praktis’ dengan Taiwan yang diklaim China.

Mereka juga mendukung langkah untuk bergabung dengan blok perdagangan Kemitraan Trans-Pasifik dan organisasi internasional lain. Dalam debat, keempat kandidat tidak hanya membahas diplomasi, ekonomi, energi, dan pertahanan tapi membahas gender dan seksualitas yang jarang dibahas LDP yang didominasi pria.

Sosiolog dan pengamat kebijakan publik Institut Teknologi Tokyo Ryosuke Nishida mengatakan, keputusan memasukkan gender dan Keragaman dalam debat menunjukkan tanda-tanda LDP tahu tidak lagi bisa isu isu tersebut. Takaichi adalah satu-satunya calon yang mendukung perubahan hanya-undang yang memaksa pasangan menggunakan satu nama keluarga. Ia juga berkunjung ke Kuil Yasukuni untuk menghormati tentara yang tewas di Perang Dunia II.

Kunjungan pejabat-pejabat Jepang ke kuil tersebut kerap membuat China dan Korea Selatan marah. Karena kedua negara menganggap kuil tersebut didirikan untuk para penjahat perang. Kandidat lain menahan diri untuk tidak mengunjungi kuil tersebut demi menghindari kekurangan dengan dua negara tetangga.

sumber : AP



Leave A Reply

Your email address will not be published.