Pemerintah mempelajari enam lokasi penyimpanan karbon

0


Kami mencari keseimbangan antara kenaikan produksi minyak dan gas dan pengurangan emisi karbon,

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sedang mengkaji enam lokasi potensial untuk penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS) sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana terkait perubahan iklim, kata seorang pejabat.

“Proyek pertama berlokasi di Gundih (Jawa Tengah). Sedang dikembangkan oleh ITB (Institut Teknologi Bandung), J-Power, dan Janus,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji dalam keterangannya, Kamis.

Selain CCUS, pemerintah juga sedang mempertimbangkan proyek Enhanced Oil Recovery (CO2-EOR) bernama Sukowati, ujarnya. Proyek tersebut sedang dikembangkan PT Pertamina EP bekerjasama dengan Japan Petroleum Exploration Co Ltd (Japex) dan Oil and Gas Institute (Lemigas), katanya.

Japex dan Lemigas, yang juga terlibat dalam proyek metodologi MRV, sedang mempelajari penerapan CCUS dan EOR di lapangan Limau Biru, ujarnya.

Berita Terkait: Indonesia mendorong pemanfaatan teknologi CCUS

Dua proyek lainnya adalah proyek Sink Match yang dikembangkan oleh ITB dan Janus serta proyek CCUS di Tangguh yang dikembangkan oleh BP Berau Ltd dan ITB, tambahnya.

“Tiga proyek CCUS di Gundih, Sukowati, dan Tangguh diharapkan mampu menyimpan hingga 50 juta ton CO2 ke depan,” ujarnya.

Saat ini, kapasitas CCUS di Indonesia adalah 1,5 gigaton dalam kondisi depleted oil dan reservoir gas yang teridentifikasi, katanya.

Enam proyek CCUS potensial akan menambah jumlah tempat yang menerapkan CCUS, tambahnya.

Berita Terkait: Kunci ekonomi hijau untuk membebaskan diri dari jebakan pendapatan menengah: Bappenas

Tutuka mengatakan pemerintah memberikan perhatian serius terhadap upaya penurunan emisi karbon di sektor hulu migas.

Toh, target peningkatan produksi migas tetap menjadi prioritas pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor migas, ujarnya.

“Kami mencari keseimbangan antara kenaikan produksi migas dan pengurangan emisi karbon,” jelasnya.

Pemerintah telah menetapkan target peningkatan produksi minyak menjadi 1 juta barel per hari dan produksi gas menjadi 1 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030, katanya.

“Untuk memperhitungkan perubahan iklim melalui emisi karbon, kami akan menggunakan CCUS di ladang minyak dan gas yang memiliki kandungan karbon tinggi,” katanya.

Berita Terkait: Presiden Jokowi umumkan penambahan beberapa kawasan di Labuan Bajo

Berita Terkait: Merger Pelindo untuk Tingkatkan Daya Saing: Presiden Jokowi

Leave A Reply

Your email address will not be published.