Pemerintah akan memangkas emisi karbon dalam transportasi udara

0


Kami menyadari bahwa pengembangan bahan bakar bioavtur merupakan isu strategis tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat global

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia berkomitmen mendorong penggunaan bahan bakar turbin penerbangan (bioavtur) sebagai bagian dari upaya penurunan emisi karbon di sektor transportasi udara. Sektor transportasi udara saat ini menyumbang dua persen dari karbon dioksida global, emisi yang menyebabkan pemanasan global, kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangan tertulis yang dirilis Rabu.

“Kami menyadari bahwa pengembangan bahan bakar bioavtur merupakan isu strategis tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat global,” ujarnya.

Dia mengatakan Indonesia telah berhasil melakukan uji coba bahan bakar jet berbasis minyak sawit yang disebut Bioavtur J2.4 yang diproduksi oleh kilang Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah.

Berita Terkait: Kontribusi sektor energi, mineral terhadap penerimaan negara naik 103%: kementerian

Bioavtur J2.4 mengandung 2,4 persen biofuel yang terbuat dari inti sawit yang diproduksi melalui teknologi katalis. Uji coba bioavtur J2.4 dilakukan pada pesawat CN235 yang terbang dari Bandung menuju Jakarta.

Uji coba ini dapat menjadi momentum positif bagi Indonesia untuk segera menyelesaikan uji coba bioavtur di pesawat sipil, katanya.

Produksi energi terbarukan dapat menambah kontribusi nyata Indonesia dalam mengurangi emisi karbon dan mencegah perubahan iklim akibat kegiatan penerbangan, katanya.

Bioavtur J2.4 telah melalui proses yang panjang hingga bisa digunakan sebagai bahan bakar jet, ujarnya.

Berita Terkait: Legislator memberi bobot pada pembangunan rendah karbon

Pusat Rekayasa Katalis Institut Teknologi Bandung (ITB) memulai kegiatan co-processing boavtur skala laboratorium menggunakan RBDPKO inti sawit degummed yang dimurnikan dengan katalis Merah Putih.

Uji coba produksi co-processing skala industri kemudian dilakukan di Refinery Unit IV PT Pertamina di Cilacap untuk memproduksi J2.0 pada 2020 dan J2.4 pada awal 2021.

Serangkaian uji coba teknis bioavtur J2.4 telah dilakukan sejak bulan lalu.

Hasil uji coba menunjukkan J2.4 memenuhi spesifikasi bahan bakar avtur berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Nomor 35 Tahun 2021. Secara spesifik, J2.4 dapat menggantikan bahan bakar avtur murni.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan uji coba yang sukses ini menjadi tonggak sejarah penggunaan bahan bakar avtur campuran inti sawit.

“Keberhasilan tersebut akan menjadi tahap pertama dari kontribusi bahan bakar bioavtur di sektor transportasi udara untuk meningkatkan ketahanan dan ketahanan energi nasional,” katanya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 12/2015, pemerintah telah menetapkan wajib penggunaan bahan bakar avtur 3 persen pada tahun 2020 dan bahan bakar nabati 5 persen untuk bahan bakar avtur pada tahun 2025.

Berita Terkait: Pemerintah bekerja pada strategi pengembangan bioenergi
Berita Terkait: Pembangkit listrik berbahan bakar batubara bukan lagi pilihan: Menteri Energi

Leave A Reply

Your email address will not be published.