Pemberdayaan ekonomi perempuan perlu sinergi bersama: menteri

0


Karena ketidaksetaraan gender masih nyata, kita perlu memastikan perempuan mendapatkan akses ke faktor pendukung pemberdayaan ekonomi, akses pembiayaan, dan literasi digital.

Jakarta (ANTARA) – Untuk mewujudkan pemberdayaan ekonomi perempuan yang optimal, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, lembaga masyarakat, dunia usaha, dan media, kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga.

“Sinergi ini tidak hanya sebatas nasional tetapi juga internasional melalui pertemuan seperti ASEAN Ministerial Meeting on Women ini,” kata Puspayoga saat webinar ‘Women Empowering Women in Pandemi Situation: Indonesia’s Experience’ di Jakarta, Kamis.

Namun, upaya untuk memperkaya ekonomi perempuan masih terhambat oleh ketidaksetaraan gender, tambahnya.

Salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk mengatasi ketidaksetaraan gender adalah peluncuran strategi nasional untuk mendukung inklusi perempuan dalam keuangan pada tahun 2020 yang telah mendapat pengakuan Asian Development Bank sebagai kebijakan pertama dan satu-satunya di dunia, kata menteri.

Berita Terkait: Kemenperin menargetkan 25 persen kepemimpinan perempuan di BUMN pada 2023

Kementerian juga menerapkan beberapa strategi seperti melakukan advokasi gender secara masif dan terstruktur untuk persiapan dan implementasi kebijakan keuangan inklusif, katanya.

Strategi tersebut antara lain mengadakan pelatihan kewirausahaan berperspektif gender dan mendukung UMKM perempuan untuk tumbuh dan berkembang di masa pandemi melalui lokakarya literasi digital, tambahnya.

Lebih lanjut, dia menyoroti, kementerian juga membantu pelaku usaha perempuan mendapatkan akses layanan keuangan mikro.

Berita Terkait: Kepemimpinan perempuan dalam keberlanjutan bisnis BUMN penting: kementerian

“Karena ketimpangan gender masih nyata, kita perlu memastikan perempuan mendapatkan akses ke faktor pendukung pemberdayaan ekonomi, akses pembiayaan, dan literasi digital,” kata Puspayoga.

Menurutnya, akses pendanaan dan pemahaman digital menjadi kunci kemajuan UMKM perempuan di masa sekarang dan masa depan.

Hal ini penting karena berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2019, persentase perempuan yang mengakses produk dan layanan keuangan sebesar 75,15 persen, lebih rendah dibandingkan laki-laki (77,24 persen), jelasnya.

Perempuan yang menggunakan internet lebih sedikit dibandingkan laki-laki, terlihat dari persentase pengguna internet perempuan (46,87 persen) dibandingkan laki-laki (53,13 persen), ujarnya.

Berita Terkait: Temui Waisimon, pelindung cenderawasih dan hutan

Berita Terkait: Mempromosikan kepemimpinan perempuan dan pemuda untuk pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan

Leave A Reply

Your email address will not be published.