Pembentukan karakter bangsa bukan berarti menolak budaya asing

0


Karakter bangsa tidak (berarti) menghilangkan identitas budaya daerah. Karang Taruna, sebagai bagian dari pemuda Indonesia, harus menjadi sumber ide dan inovasi baru tentang bagaimana merangkul generasi muda.

Jakarta (ANTARA) – Ketua DPR Puan Maharani menilai membangun karakter bangsa bukan berarti harus menolak budaya asing.

Dalam pesannya pada webinar bertajuk “Aktualisasi Pemuda dalam Pencegahan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional” pada Sabtu, Maharani juga mendorong Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan untuk menumbuhkan semangat anak muda dalam membangun karakter bangsa.

“Karang Taruna perlu berperan aktif dalam membangun bangsa dan karakter. Perlu saya ingatkan bahwa berkarakter dalam (konteks) budaya Indonesia bukan berarti kita melawan budaya asing,” ujarnya, Sabtu.

Ia menilai, dalam membangun karakter bangsa, Indonesia tidak bisa mengisolasi diri dari budaya asing. Dengan memiliki karakter yang kuat, Indonesia justru dapat menyerap dan menyaring budaya dari luar negeri dan menggabungkannya dengan budaya yang ada.

Berita Terkait: Dukung transformasi digital UMKM sebagai tulang punggung ekonomi: Ketua DPR

“Karakter bangsa tidak (berarti) menghilangkan identitas budaya daerah. Karang Taruna sebagai bagian dari pemuda Indonesia harus menjadi sumber ide dan inovasi baru untuk merangkul generasi muda,” ujarnya.

Di tengah pandemi COVID-19, Maharani mengimbau Karang Taruna untuk menumbuhkan semangat gotong royong yang bisa dimulai dari hal terkecil.

“Di masa pandemi COVID-19, kita sangat membutuhkan seluruh elemen bangsa untuk menerapkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia, seperti gotong royong, dan ketika kita melebur, maka akan menjadi gotong royong skala besar,” tegasnya.

Berita Terkait: Ketua DPR Desak Percepatan Vaksinasi untuk Kelompok Usia Sekolah

Ia juga berharap generasi muda dapat menjaga warisan besar para pendiri bangsa, berupa nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Generasi muda Indonesia juga harus mampu memitigasi dan mengambil tindakan pencegahan terhadap dampak negatif perkembangan teknologi informasi, karena dapat mengacaukan cara pandang warga negara Indonesia.

“Jangan sampai generasi penerus bangsa kita menyimpang jauh dari akar budaya bangsa, baik dari segi etika dan moral bangsa, serta tenggelam dalam pusaran gejolak disrupsi dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi,” pungkas Maharani.

Berita Terkait: Sumadi meninjau kesiapan transportasi jelang PON XX

Berita Terkait: Satgas perlu penerapan protokol kesehatan yang ketat di PON

Leave A Reply

Your email address will not be published.