Partai Aljazair Tuntut Prancis di Pengadilan Internasional

0


Prancis melakukan pekerjaan mendatangkan jamaah masjid Aljazair

REPUBLIKA.CO.ID, ALJIR – Partai politik Aljazair pada Ahad (17/10) menuntut untuk menuntut Prancis di pengadilan internasional atas kejahatan yang dilakukan di Aljazair selama 132 tahun di bawah pemerintahan kolonial.

Hal itu dikatakan dalam sebuah pernyataan pada peringatan 60 tahun polisi Prancis melakukan uji coba terhadap demonstran Aljazair di Paris.

Kala itu pada 1961, pengunjuk rasa Aljazair menuntut kemerdekaan bagi negara Aljazirah. “Menghormati para martir yang membutuhkan Prancis secara internasional,” kata Partai Gerakan untuk Masyarakat Perdamaian dalam sebuah pernyataan.

Pada 17 Oktober 1961, lebih dari 300 demonstran Aljazair yang dibunuh oleh polisi Prancis. kebanyakan mereka dibuang ke Sungai Seine. Di Prancis termasuk hampir 4.000 jamaah Muslim era kolonial yang berlangsung dari tahun 1830 hingga 1962.

Para jamaah tewas ketika mereka melakukan aksi duduk di Masjid Ottoman yang disebut Ketchaoua dalam upaya untuk menerapkan masjid diubah menjadi gereja. “Prancis menjajah kami selama 132 tahun. keji yang dilakukan tidak dapat dihapus dengan kata-kata,” kata Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune dalam wawancara yang halus televisi Ahad lalu.

Dilansir Anadolu Agency, Senin (18/10), Tebboune menyebut penjajahan itu menyebabkan banyak orang yang menjadi korban. Bahkan, ada suku yang terhapus, yaitu Zaatcha dari Aljazair tenggara. “Di Ketchaoua, Prancis membunuh 4.000 jamaah yang mati syahid setelah dikelilingi oleh meriam dan dimusnahkan,” tambahnya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Sabtu (16/10) mengutuk tindakan keras mematikan oleh polisi Paris pada 1961 terhadap orang-orang Aljazair. Hal ini Macron kepada kerabat dan aktivis pada peringatan 60 tahun pertumpahan darah pada 17 Oktober 1961 malam di bawah komando Kepala polisi Paris Maurice Papon.

Macron mengatakan tragedi berdarah tersebut lama ditutup dan ditutup. Macron kejahatan yang dilakukan tidak dapat dimaafkan. “Tragedi ini sudah lama ditutup-tutupi, disangkal atau,” ujar pernyataan Istana Elysee, dilansir Aljazirah.

Sumber: anadolu



Leave A Reply

Your email address will not be published.