Nilai-nilai Pancasila lambang ajaran Islam: Cendekiawan Muslim

0


Kita dapat mengutip sila pertama yang menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Jakarta (ANTARA) – Cendekiawan Muslim Dr Sukidi menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila juga mencerminkan nilai-nilai dalam ajaran Islam.

“Kita bisa mengutip sila pertama yang menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Jelas menggambarkan nilai tauhid Islam itu sendiri. Begitu juga dengan sila-sila lainnya,” kata Sukidi saat menjadi pembicara dalam rangkaian Inspirasi Ramadhan bertajuk “Menjadi Muslim di Tengah Kekacauan. ” diposting di akun YouTube BKN PDI Perjuangan.

Sukidi mengatakan umat Islam di Indonesia yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia harus mampu merangkul dan melindungi sesama, sehingga tercipta keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila ketika timbul perbedaan pendapat, agar bangsa Indonesia tidak terpecah belah hanya karena perbedaan ideologi, dan Islam dan Pancasila memiliki beberapa persamaan di tengah keragaman masyarakat, ujarnya.

“Islam cenderung menjadi agama yang toleran dan memiliki semangat toleransi yang mendorong umatnya untuk menjadi manusia yang baik dan warga negara yang baik. Jangan sampai kita salah mengartikan ajaran agama, sehingga kita menjadi orang yang intoleran, atau mereka yang tidak mendukung kemajuan,” ujarnya. ditegaskan.

Umat ​​Islam juga harus inklusif dan terbuka terhadap modernisme, agar bisa mengikuti perubahan, tegasnya.

“Umat Islam Indonesia harus berpikiran terbuka dan mampu mengikuti perubahan, terutama perkembangan ilmu pengetahuan. Kita harus menjadi muslim yang baik di tengah kemajuan teknologi, terutama di era disrupsi akibat pandemi. Kita harus berpikir global tapi bertindak. lokal,” jelasnya.

Sukidi menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa dapat ditopang oleh agama dan tradisi masyarakatnya. Oleh karena itu, umat Islam Indonesia harus mengembangkan rasa toleransi terhadap satu dan semua karena bangsa ini memiliki beragam suku, agama, ras, dan adat istiadat.

“Sejak awal, Bung Karno, founding father kita, selalu mengutamakan Islam sebagai agama rasional, agama yang menempatkan (menekankan) akal sehat. Jadi, saat menghadapi pandemi seperti ini, kita tidak boleh anti-ilmiah. Kita harus siap di era disrupsi ini, agar kita bisa berkolaborasi dan bekerja sama untuk kemajuan bangsa dan masyarakat,” tegasnya.

Berita Terkait: Moderasi beragama bukan taktik untuk melemahkan Islam: BNPT
Berita Terkait: Surakarta terpilih sebagai kota percontohan program implementasi Pancasila
Berita Terkait: Aparatur Sipil Negara harus memimpin upaya pembangunan karakter bangsa: BPIP

Leave A Reply

Your email address will not be published.