Luwu Timur: Kementerian bersiap selidiki kembali kasus pemerkosaan 2019

0


Makassar, Sulawesi (ANTARA) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menurunkan tim penyidik ​​beranggotakan empat orang untuk mengumpulkan fakta terkait dugaan pemerkosaan tiga anak oleh ayahnya di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, pada 2019.

Investigasi atas kasus tersebut dihentikan oleh polisi setempat pada saat itu karena tidak cukup bukti.

Sementara empat penyelidik telah dikirim saat ini, seorang koordinator tim akan segera menyusul, kata seorang pejabat.

“Kami masih mengumpulkan fakta, jadi kami turun ke sini untuk mencari fakta,” kata ketua tim kementerian Taufan di Makassar, Sabtu.

Namun, dia enggan membeberkan hasil pertemuan dengan Unit Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak Sulsel terkait penanganan kasus tersebut.

“Kami belum bisa memberikan informasi karena ini baru proses awal. Proses ini kami ulangi dari awal untuk melihat fakta di lapangan. Kami masih di sini sampai proses selesai,” jelasnya.

Dikatakannya, tim dari kementerian datang untuk mencari kebenaran dan mengumpulkan fakta agar kasus tersebut dapat dibuka kembali, mengingat kejadian tersebut melibatkan anak-anak yang diduga dilecehkan secara seksual oleh ayahnya sendiri, berinisial SA (inisial). .

“Kami mencari fakta di sini. Yang jelas kami mengumpulkan fakta dari semua pihak terkait. Jika semua (lokasi) terungkap (ke publik), yang akan dikunjungi, mereka akan bersiap-siap. Kami ingin memberikan unsur kaget sehingga tidak mempersiapkan (mengutak-atik barang bukti),” tambah Taufan.

Berita Terkait: Ibu harus meningkatkan kesadaran tentang kekerasan seksual terhadap anak perempuan

Dia mencontohkan, data dari penyelidikan, setelah selesai, akan diungkapkan kepada publik melalui media.

Sementara itu, Kepala Unit Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak Sulawesi Selatan Meisy Papuyungan mengatakan, tim kementerian datang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kementerian di Jakarta telah menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kepada tim, tambah Papuyungan.

“Kami serahkan untuk penyidikan lebih lanjut ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sekarang, korban bersama ibu mereka. Selama mereka membutuhkannya, kami siap. Ada tim yang akan ke sana (Luwu Timur). Mereka meminta informasi awal, maka kami menyarankan agar kami segera turun untuk menggali informasi yang valid agar tidak membingungkan,” kata Papuyungan.

Ibu korban, RA, menuduh mantan suaminya, SA, yang bekerja di Pemkab Luwu Timur sebagai PNS, telah melakukan pelecehan seksual kepada tiga anak kandungnya, berinisial AL, MR, dan AL, pada tahun 2019 .

Investigasi atas kasus tersebut dihentikan karena tidak cukup bukti pada 2019, kata para pejabat. Kasus tersebut viral di media sosial pada Oktober 2021. Cara penghentian penyidikan kasus ini dinilai aneh oleh tim pendampingan hukum LBH Makassar.

Berita Terkait: RUU anti kekerasan seksual senjata penting dalam perang melawan budaya pemerkosaan

Leave A Reply

Your email address will not be published.