Lebih hemat, Subholding Gas Pertamina kembangkan pendingin tenaga gas

0



Jakarta (ANTARA) – Subholding Gas PT Pertamina (Persero) melalui kerjasamanya dengan PT Permata Karya Jasa (Perkasa) mengembangkan alat pendingin tenaga gas bumi sebagai solusi hemat dan ramah lingkungan.

Sinergi dan inovasi dalam Subholding Gas Pertamina Group tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan rantai nilai gas bumi.

Dalam keterangan Subholding Gas Pertamina di Jakarta, Rabu, disebutkan beberapa target pelanggan alat pendingin tersebut di antaranya hotel, bandara, kantor, mal, rumah sakit, dan pusat data.

Pendingin atau pendingin berbahan bakar gas bumi itu dapat membantu menghemat energi sampai 30 persen dibandingkan pendingin konvensional dan hemat pemakaian listrik hingga 70 persen.

Direktur Utama Perkasa Adhi Lingga Harymurti menjelaskan pendingin dapat digunakan untuk pendingin ruang operasional pabrik maupun kantor.

Baca juga: Dukung energi bersih, Subholding Gas Pertamina uji coba CNG di Bali

Beberapa kelebihan alat pendingin ini adalah ramah lingkungan, karena pendingin ini menggunakan pendingin berupa air dan lithium bromida (Libr), bukan freon yang merusak ozon.

“Kelebihan kedua adalah energi hijau, karena berbahan bakar gas sehingga layak untuk diaplikasikan secara lebih luas di masyarakat. Kelebihan ketiga yaitu dapat juga menggunakan bahan bakar dari panas buang pembangkit (knalpot),” ujar Adi.

Adhi melanjutkan dengan memanfaatkan panas buang pembangkit, maka akan meningkatkan efisiensi, karena panas yang terbuang dari lingkungan. Maka, panas buang tersebut bisa diolah dengan pendingin untuk menghasilkan udara dingin.

“Misalnya, mesin gas dari sebuah pabrik. Mesin gas itu menghasilkan listrik mandiri, selain PT PLN. Dari situ pasti ada gas buangnya yang lebih dari 300 derajat. Itu bisa digunakan untuk energi pendingin. Maka, bisa disebut juga dengan pendingin penyerapan atau menyerap panas dari sebuah pembangkit,” jelas Adhi.

Baca juga: Subholding Gas Pertamina siap bangun jargas 240 ribu rumah tangga

Selain itu air panas (90-180 °C) dan uap (0-10 bar) dari sebuah pabrik juga dapat digunakan sebagai energi alat pendingin. Dari beberapa sumber energi tersebut dapat menghasilkan banyak keluaran yaitu pendingin (pendinginan), pemanas (Pemanasan), dan udara panas.

“Dari satu alat kita bisa menghasilkan tiga keluaran yaitu pendinginan, pemanasan, dan air panas. Khusus Pemanasan tidak dihidupkan kembali di Indonesia, karena khusus untuk negara empat musim. Air panas biasanya digunakan bersamaan ketika di hotel. Satu alat (pendingin) dapat menghasilkan udara dingin untuk ruangan dan air panas untuk mandi. Jadi, tidak perlu pakai ketel lagi,” papar Adhi.

Pendingin ini juga lebih aman, karena bersifat kekosongan dan bukan tekanan, sehingga kemungkinan terjadi ledakan sangat rendah.

Terakhir, tambah Adhi, pendingin ini telah lulus uji ketahanan gempa sampai skala 9 SR. “Ketika ada gempa, larutan yang ada di dalamnya tetap stabil dan tetap bisa bekerja dengan baik,” katanya.

Baca juga: Subholding Gas Pertamina pasok gas bumi ke Istana Negara Jakarta

Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Risbiani Fardaniah
HAK CIPTA © ANTARA 2022

Leave A Reply

Your email address will not be published.