KSP mengaitkan peningkatan konsumsi masyarakat dengan upaya pemerintah

0


Juga karena percepatan penyaluran bansos untuk memperkuat daya beli masyarakat

Jakarta (ANTARA) – Upaya pemerintah meningkatkan konsumsi rumah tangga yang turut mendorong kuatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2022 menjadi 5,01 persen secara tahunan (year on year/yoy), kata Staf Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Edy Priyono.

Namun, di sisi lain, terjadi kenaikan harga bahan pokok yang dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global, kata Priyono, Selasa.

“Meskipun terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok, namun dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga justru tumbuh sebesar 4,34 persen year on year, atau lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan IV 2021 yang sebesar 3,55 persen (yoy),” ujarnya. ditegaskan.

Pernyataan Priyono terkait isu harga kebutuhan pokok di pasar domestik yang menurut Survei Indikator Politik pada 15 Mei telah menurunkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma. ‘ruf Amin.

Priyono mengaku kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga ditopang oleh kebijakan pemerintah untuk mempermudah mobilitas masyarakat sejalan dengan pengendalian pandemi dan percepatan vaksinasi COVID-19.

“Itu juga karena percepatan penyaluran bansos untuk memperkuat daya beli masyarakat,” ujarnya.

Namun, penguatan konsumsi rumah tangga juga dapat berkontribusi terhadap kenaikan inflasi. Pada April 2022, inflasi tercatat sebesar 0,95 persen secara bulanan (month to month) atau 3,47 persen secara tahunan (year to year).

“Inflasi yang tinggi juga bertepatan dengan periode Ramadhan 2022 yang secara siklis meningkatkan permintaan,” jelas Priyono.

KSP tetap optimis perekonomian Indonesia ke depan akan tetap kuat seiring dengan komitmen pemerintah untuk mempercepat vaksinasi COVID-19, memperluas pembukaan sektor ekonomi, dan memberikan berbagai stimulus berupa bantuan sosial kepada masyarakat.

Terkait kenaikan harga bahan pokok, Priyono mengatakan hal itu tidak lepas dari situasi global, seperti pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, konflik Rusia-Ukraina, normalisasi kebijakan di negara maju, dan perubahan kondisi cuaca.

Akibat ketidakpastian global tersebut, harga berbagai komoditas di pasar global, termasuk pangan dan energi, mengalami kenaikan yang pada akhirnya memicu kenaikan harga di beberapa negara.

“Jika kondisi ini terus berlanjut, dapat menyebabkan peningkatan inflasi, penurunan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, serta memberikan tekanan fiskal, mengingat APBN sebagian besar digunakan untuk memberikan dukungan sosial bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin,” kata Priyono.

Selain itu, kebijakan moneter negara maju telah memberikan tekanan pada pasar keuangan. Hal ini dapat mengakibatkan fluktuasi nilai tukar rupiah serta potensi kenaikan suku bunga di pasar keuangan.

Dia memastikan pemerintah akan terus mengoptimalkan anggaran negara untuk memberikan bantuan sosial guna mengurangi dampak ketidakpastian global terhadap masyarakat, khususnya masyarakat miskin.

Lembaga survei Indikator Politik pada 15 Mei lalu merilis survei yang menyebutkan kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Widodo-Wakil Presiden Amin turun enam persen menjadi 58,1 persen. Penurunan tersebut terjadi satu bulan setelah survei terakhir yang menyatakan kepuasan publik tercatat sebesar 64,1 persen. Penurunan drastis tersebut disebabkan oleh kenaikan harga bahan pokok.

Berita Terkait: Kemungkinan besar Indonesia mencapai target pertumbuhan 5,2 persen: Indef
Berita Terkait: Ekonomi Indonesia tumbuh 5% di Q1, melampaui AS, China
Berita Terkait: Ekonomi tumbuh seiring dengan peningkatan mobilitas masyarakat: BPS

Leave A Reply

Your email address will not be published.