KPK limpahkan berkas perkara suap RAPBD Jambi ke pengadilan

0



Jakarta (ANTARA) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melimpahkan berkas perkara dari pihak swasta ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jambi, Senin (18/10).

Paut merupakan perkara suap terkait pengesahan RAPBD Provinsi Jambi Tahun 2017-2018.

“Senin (18/10), tim jaksa melimpahkan melimpahkan surat dakwaan dan berkas perkara kriminal ke Pengadilan Tipikor pada PN Jambi,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Ali mengatakan bahwa pekerjaan tersebut sepenuhnya sudah menjadi tugas pengadilan tipikor dan sementara waktu masih menunggu di Rutan KPK di Pomdam Jaya Guntur, Jakarta.

Baca juga: KPK mengumpulkan bukti terkait OTT di Riau

“Selanjutnya penetapan penetapan penunjukan Majelis Hakim dan penetapan hari dengan agenda membacakan surat-surat oleh tim jaksa,” ucap Ali.

Paut dakwaan dengan tuduhan pertama Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP atau kedua Pasal 13 Undang-Undang Tipikor jo Pasal 55 ayat (1 ) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dalam konstruksi yang menjerat Paut sebagai tersangka, KPK menjelaskan bahwa para pimpinan DPRD Jambi diminta meminta uang “ketok palu”, menagih kesiapan uang “ketok palu”, melakukan pertemuan untuk membicarakan hal tersebut, meminta jatah proyek dan/atau menerima uang dalam kisaran Rp100 juta atau Rp600 juta per orang.

Para pimpinan fraksi dan komisi di DPRD Jambi mengumpulkan anggota fraksi untuk menentukan sikap terkait dengan pengesahan RAPBD Jambi, membahas, dan menagih uang “ketok palu”, menerima uang untuk jatah fraksi sekitar dalam kisaran Rp400 juta hingga Rp700 juta untuk setiap fraksi, dan /atau menerima uang untuk perorangan dalam kisaran Rp100 juta, Rp140 juta atau Rp200 juta.

KPK menduga Anggota tersangka Paut berperan sebagai penyokong dana dan pemberi uang “ketok palu” tambahan untuk para anggota III DPRD Jambi dengan besaran Komisi-masing-masing Rp150 juta terkait RAPBD Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2017.

Baca juga: Nurul Gufron benarkan KPK lakukan OTT di Riau

Pemberian uang oleh Paut diduga agar perusahaan yang dimilikinya bisa mendapatkan beberapa proyek di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi Tahun 2017.

Adapun, jumlah dana yang disiapkan oleh tersangka sekitar Rp2,3 miliar dengan pembagian uang sebesar Rp325 juta pada November 2016.

Pemberian uang oleh tersangka Paut tersebut melalui seorang bernama Hasanudin kepada Anggota DPRD Jambi 2014-2019 Effendi Hatta di lapangan parkir Bandara Sultan Thaha Jambi sebagai titipan untuk 13 anggota komisi III yang masing-masing mendapatkan Rp25 juta per orang dan sudah dibagikan oleh Anggota DPRD Jambi 2014 -2019 Zainal Abidin kepada 13 anggota komisi III di salah satu hotel di Bogor, Jawa Barat saat acara bimtek.

Kemudian, uang sebesar Rp1.950 miliar pada akhir Januari 2017 bertempat di rumah tersangka Paut kembali dilakukan pemberian uang oleh tersangka Paut kepada Effendi Hatta dan Zainal Abidin yang kemudian diserahkan oleh Effendi Hatta dan Zainal Abidin kepada 13 anggota komisi III lainnya.

Baca juga: Jubir: Waspadai pemerasan berkedok surat kabar berlogo mirip KPK
Baca juga: Saksi diancam jadi tersangka apabila tak beri uang ke eks penyidik ​​KPK

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Tasrief Tarmizi
HAK CIPTA © ANTARA 2021

Leave A Reply

Your email address will not be published.