Kemenkes Soroti Kualitas Mutiara Laut Selatan Indonesia

0


Ukuran (ISSP) lebih besar, yaitu antara 9-17 mm, dengan warna mulai dari putih, perak, hingga emas, sehingga sangat populer di pasar luar negeri.

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta, Rabu, mengimbau agar mutiara laut selatan Indonesia (ISPA) lebih menonjolkan kualitas mutiaranya guna mendongkrak citranya sebagai salah satu produk kelautan nasional.

“Ukurannya (ISSP) lebih besar, yaitu antara 9-17 mm, dengan warna mulai dari putih, perak, hingga emas, sehingga sangat populer di pasar luar negeri,” Dirjen Penguatan Daya Saing Kelautan dan Perikanan Produk di kementerian Artati Widiarti menjelaskan.

Widiarti mencatat selama periode 2017-2021 tercatat fluktuasi ekspor mutiara Indonesia, dari US$51,4 juta pada 2017 dan turun menjadi US$44,4 juta pada 2021, menurut data Badan Pusat Statistik.

Di sisi lain, Widiarti menegaskan bahwa ISSP umumnya diperdagangkan dalam bentuk mutiara lepas dan perhiasan melalui lelang di pasar domestik dan internasional, terutama di Jepang, Hong Kong, dan Australia.

Saat ini, katanya, mutiara lepas ISSP dihargai sekitar US$15-25 per gr.

Berita Terkait: Kemendagri Latih Masyarakat Serang Program Kampung Nelayan Maju

Sentra budidaya mutiara tersebar di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua,” kata Widiarti.

Widiarti juga mengajak berbagai komunitas untuk membantu mempopulerkan ISSP, karena mutiara merupakan salah satu kekayaan laut Indonesia yang menyumbang devisa negara.

“Mari kita semua memperkuat branding mutiara laut selatan Indonesia, agar tidak kalah dengan mutiara Australia, Filipina, dan Myanmar di pasar global,” jelasnya.

Berita Terkait: Kementerian akan mengembangkan dua kapal pengawas perikanan 50 meter

Sementara itu, Ketua Divisi Hilir Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi), Fara Nasution, berbagi tips membedakan mutiara asli dengan mutiara palsu.

Nasution memperkenalkan teknik 3M: bakar, gores, dan gosok untuk mengecek keaslian dan kualitas mutiara.

“Kalau dibakar tidak ada perubahan, maka itu nyata. Kalau digores dan digosok dengan tangan, dan masih licin, maka itu juga nyata,” kata Nasution.

Berita Terkait: Berlibur di Gili Trawangan “Party Island” Lombok

Berita Terkait: Orang dengan gejala COVID-19 harus menghindari tarawih di masjid: Gugus Tugas

Leave A Reply

Your email address will not be published.