kejahatan Penipuan Email Lintas Negara Rugikan Rp 82 Miliar

0


Tujuan pelaku mendapatkan dana yang ditargetkan untuk rekan bisnis korban.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktorat Tindak Pidana Siber (Ditpidsiber) Bareskrim Polri mengungkap kejahatan dengan skema kejahatan maya. Kejahatan yang menggunakan email penipuan terhadap perusahaan lintas negara, menyebabkan kerugian mencapai Rp 82 miliar.

“Ditpidsiber Polri telah mengungkap tindak kejahatan dengan skema business email compromy (BEC) yang ditujukan kepada beberapa perusahaan, manajer keuangan atau petugas keuangan di satu perusahaan dengan cara jadi rekan bisnis korban,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono dalam Konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (1/10).

Rusdi menjelaskan, tujuan pelaku adalah mendapatkan dana yang sebenarnya dana tersebut ditujukan kepada rekan bisnis korban namun ternyata dana tersebut dikirim kepada pelaku penipuan. Dalam perkara ini Ditpidsiber Bareskrim Polri menangkap empat pelaku warga negara Indonesia yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Keempat tersangka terdiri atas tiga perempuan dan satu laki-laki dengan CT awal (25 tahun), NTS (38), FP (26), dan YH (24).

Direktur Tindak Pidana Siber (Dirtipidsiber) Brigjen Asep Edi Suheri mengatakan, korban kejahatan ini adalah dua perusahaan asing yakni WFH yang berasal dari Taiwan bergerak di bidang makanan dan minuman, serta perusahaan SW Inc yang berasal dari Korea Selatan, bergerak dibidang elektronik.

“Para tersangka melakukan penipuan dengan skema Business Email Compromise (BEC) terhadap korban atas nama SW Inc yang berasal dari Korea Selatan dengan kerugian sekitar Rp 82 miliar dan WHF Co yang berasal dari Taiwan dengan kerugian sekitar Rp 2,8 miliar,” kata asep.

Untuk modus operandi, kata Asep, sindikat ini melakukan skema bisnis e-mail kompromi yaitu praktik dimana ditujukan kepada manajer keuangan atau bagian keuangan suatu perusahaan yang dilakukan dengan cara menjadi perusahaan mitra dagang korban dengan tujuan mendapatkan dana yang seharusnya ditransfer ke perusahaan rekan bisnis korban yang asli.

Menurut Asep, sindikat penipuan lintas negara tersebut sudah beroperasi sejak 2020, diduga juga melakukan perbuatan serupa di sejumlah negara, di antaranya, Amerika, Argentina, Afrika Selatan, Jepang, Singapura dan Belgia.

Selain menangkap pelaku, penyelidikan buah miliar barang bukti di uang tunai senilai Rp 29, tiga telepon selular, sembilan tabungan dari berbagai bank, dua paspor para tersangka, 14 ATM dan sembilan buku cek bank.

Barang bukti lainnya, unit sepeda motor, tiga KTP tersangka, satu NPWP tersangka, surat izin usaha, puluhan Cap perusahaan, akta notaris pendirian perusahaan, bukti dana dari bank dan bukti transaksi penukaran uang asing.

“Kasus ini masih kami dalami termasuk mengejar salah satu pelaku inisial D, warga negara Nigeria, yang merupakan otak dari sindikat penipuan,” kata Asep.

Terhadap para tersangka tersangka pasal berlapis transaksi elektronik, tindak pidana tindak pidana uang dan penipuan. Adapun pasal-pasal yang disangkakan, yakni Pasal 45A ayat (1) Jo Pasal 28 ayat (1) UU No 19 Tahun 2016 tentang penyebaran berita bohong yang mengakibatkan kerugian melalui transaksi elektronik, diancam hukum enam dan denda Rp 1 miliar. Juga disangkakan dengan Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU No 8 Tahun 2010 tentang TPPU dengan ancaman pidana penjara dengan denda Rp 10 miliar.

Keempat pelaku juga dijerat dengan Pasal 82, Pasal 85 UU No 3 Tahun 2011 tentang Tindak Pidana Transfer Dana, menerima uang hasil perintah transfer dana yang melawan hukum empat tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. “Pelaku juga kita kenakan Pasal 378 KUHP, penipuan yang mengakibatkan kerugian, ancaman hukuman empat tahun,” kata Asep.

Keberhasilan Ditpidsiber Bareskrim Polri mengungkap kejahatan berskema BEC ini mendapat apresiasi dari Police Liaison Officer Taiwan dan Atase Kepolisian Korea Selatan yang hadir pada konferensi pers tersebut.

Atase Kepolisian Korea Byun Chang-bum berterima kasih kepada Bareskrim Polri yang telah berhasil mengungkap kasus dan keadilan atas perkara yang merugikan perusahaan negaranya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Police Liaison Officer Taiwan Tom Kang, yang mempercayai kepolisian Indonesia dapat mengungkap kejahatan yang dilaporkan sejak awal 2021.

sumber : Antara



Leave A Reply

Your email address will not be published.