JPU Aceh Besar kasasi ke MA terkait vonis bebas pemerkosa anak

0



Banda Aceh (ANTARA) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Aceh Besar mengajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung (MA) terhadap vonis bebas dari pemerkosa anak kandung berinisial SUR (45) oleh Mahkamah Syar’iyah Provinsi Aceh.

“Senin kemarin kita nyatakan kasasi, dan kami akan mengirimkan memori kasasinya dalam minggu ini,” kata Kasubsi Penkum Kejari Aceh Besar Ardiansyah, di Aceh Besar, Selasa.

Sebelumnya, Mahkamah Syar’iyah Aceh memvonis bebas pemerkosa anak di Aceh Besar berinisial SUR (45). Terdakwa merupakan ayah kandung dari korban.

Putusan bebas dengan Nomor 22/JN/2021/MS Aceh dibacakan hakim dalam sidang banding yang berlangsung di Mahkamah Syar’iyah Aceh, Selasa (28/9).

Padahal sebelumnya, pada sidang di tingkat pertama melakukan SUR divonis bersalah oleh Mahkamah Syar’iyah Jantho Aceh Besar dengan hukuman 180 bulan penjara, dan akhirnya ia banding ke MS Aceh.

Baca juga: HNW dukung penyelidikan ulang dugaan perkosaan di Luwu Timur
Baca juga: Kompolnas Saran Polri gunakan bantuan SCI cari bukti di Luwu Timur
Baca juga: Terlapor klarifikasi terkait tuduhan mencabuli anaknya di Luwu Timur

Ardiansyah melihat, putusan bebas tersebut hanya karena perbedaan pendapat antara hakim Mahkamah Syar’iyah Jantho Aceh Besar dengan Mahkamah Syar’iyah Provinsi Aceh dalam melihat kasus ini.

Kemudian, kata Ardiansyah, secara hukum melihat juga ada alat bukti korban yang tidak menjadi perhatian Mahkamah Syar’iyah Aceh seperti bukti visum et repertum

“Secara hukum kami melihat visum et repertum tidak dianggap sebagai alat bukti,” ujar Ardiansyah.

Untuk diketahui, vonis bebas tersebut memutuskan hakim dengan beberapa pertimbangan diantaranya menyatakan bahwa hasil visum et repertum yang dilakukan secara medis tidak dapat dibantah kebenarannya.

Namun, keterangan ahli bahwa ruda paksa telah terjadi lebih dari lima hari dari tanggal pemeriksaan visum, sehingga dapat terlihat seperti penampakan darah anak korban sebelum tanggal 14 Januari 2021 (sebelum dugaan terjadi).

Di samping itu, ahli menjelaskan tidak dapat memastikan benda tumpul yang digunakan untuk mencederai anak korban. Selanjutnya, ahli tidak menjelaskan tindakan yang melakukan tindakan yang mengakibatkan cederanya memperbaikinya dara anak korban.

Dengan demikian Mahkamah Syar’iyah Aceh Aceh berpendapat bahwa tuduhan tersebut tidak dapat dijadikan bukti untuk melakukan jarimah.

Pewarta: Rahmat Fajri
Redaktur: M Arief Iskandar
HAK CIPTA © ANTARA 2021

Leave A Reply

Your email address will not be published.