Indonesia saat ini memiliki tingkat inflasi yang rendah di tengah COVID-19: BPS

0


Jakarta (ANTARA) – Indonesia saat ini memiliki tingkat inflasi yang rendah, terutama di tengah pandemi COVID-19, dengan masyarakat tidak mengalami kekurangan pasokan barang, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono.

“Kita beruntung inflasinya rendah karena pasokan dalam negeri tetap terjaga,” kata Yuwono dalam pelatihan media di Jakarta, Kamis.

Dengan demikian, Kepala BPS menilai masyarakat dalam negeri tidak pernah mengalami kesulitan mendapatkan barang atau komoditas selama pandemi untuk konsumsi.

Dengan begitu, inflasi bisa terkendali, kata Yuwowo.

Di negara lain, tingkat inflasi sudah mulai melonjak, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa, di mana harga barang dan komoditas melonjak karena gangguan produksi barang.

Berita Terkait: Inflasi terkendali, permintaan manufaktur melonjak: Menteri

Pandemi COVID-19 telah mengganggu produksi barang, katanya.

“Di tingkat produsen di beberapa negara terjadi pergerakan harga yang tinggi,” kata Yuwono.

Meski demikian, ia menilai dampak lonjakan inflasi internasional masih perlu dikaji untuk mengantisipasi kemungkinan kelangkaan produksi dalam negeri.

BPS mencatat inflasi Januari-Oktober 2021 mencapai 0,9 persen (year to date/ytd), sedangkan inflasi Oktober 2021 dibandingkan Oktober 2020 sebesar 1,66 persen (year on year/yoy).

Dalam menentukan inflasi, BPS memantau harga sedikitnya 800 komoditas.

Berita Terkait: Jokowi memproyeksikan tingkat inflasi tiga persen dapat dipertahankan

Seorang peneliti mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai kemungkinan kenaikan harga pangan pada tahun 2022, seiring dengan ketidakpastian musim tanam dan panen akibat pandemi COVID-19 dan fenomena La Nina.

“Krisis iklim menjadi tantangan bagi industri pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan global. Ketidakpastian musim tanam dan panen juga menjadi tantangan bagi petani Indonesia untuk mengolah hasil panennya dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata peneliti dari Puslitbang Indonesia. Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan sebelumnya mencatat.

Meski pasokan dan ketersediaan bahan pangan pokok stabil, komoditas impor lainnya seperti bawang putih, gula, daging sapi, dan kedelai berpotensi mengalami fluktuasi harga, kata Setiawan.

Mengutip Pusat Informasi Komoditas Pangan Strategis (PIHPS), peneliti mencontohkan harga bawang putih dan daging sapi, baik pada Rp28.300 (sekitar US$1,98) per kg dan Rp113.250 (sekitar US$7,9) per kg pada Januari 2021, telah meningkat menjadi Rp30.600 (sekitar US$2,1) per kg dan Rp120.050 (sekitar US$8,4) per kg pada pertengahan 2021.

“Fluktuasi produksi dan harga komoditas nasional merupakan indikator yang dapat diandalkan untuk menyusun kebijakan pengendalian komoditas dengan akurasi yang cukup. Selain itu, kita membutuhkan data komoditas pangan yang andal yang akan sering diperbarui,” katanya.

Kesulitan mengamankan impor daging sapi dapat menyebabkan kenaikan harga pada awal 2022, terutama selama bulan puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri ketika permintaan daging sapi akan melonjak signifikan, kata Setiawan.
Berita Terkait: Waspadai kemungkinan kenaikan harga pangan pada 2022: peneliti
Berita Terkait: Inflasi tetap rendah di hampir seluruh wilayah Indonesia: BI

Leave A Reply

Your email address will not be published.