Harga CPO tinggi, jumlah petani batal ikuti program peremajaan sawit

0



Ada beberapa pekebun yang batal mengikuti program peremajaan tanaman kelapa sawit karena harga sawit naik

Mukomuko (ANTARA) –

Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menyatakan jumlah petani kebun kelapa sawit di Desa Lubuk Talang batal mengikuti program peremajaan tanaman kelapa sawit karena harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) naik.

“Ada beberapa pekebun yang batal mengikuti program peremajaan tanaman kelapa sawit karena harga sawit naik,” kata Kasi Produksi dan Proteksi Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Muhammad Asri, dalam keterangannya di Mukomuko, Selasa.

Kelompok tani Harapan Bersama di Desa Lubuk Talang sebelumnya mengusulkan peremajaan tanaman kelapa sawit yang tidak produktif karena menggunakan bibit asal dan usia di atas lahan seluas sekitar 70 hektare.

Ia mengatakan karena ada beberapa pekebun di wilayah ini yang batal mengikuti program peremajaan, luas lahan perkebunan yang diusulkan untuk mendapatkan program berkurang dari 70 hektare menjadi 67 hektare.

Ia mengatakan beberapa petani kelapa sawit yang batal mengusulkan program peremajaan tanaman kelapa sawit karena umur tanamannya di atas 25 tahun.

Meskipun umur tanaman kelapa sawit tersebut di atas 25 tahun namun produktivitas tanaman kelapa sawit tersebut masih tinggi, sehingga petani batal mengikuti program peremajaan tanaman kelapa sawit.

Sementara itu ada dua kelompok tani dari Desa Lubuk Pinang, Kecamatan Lubuk Pinang, mengusulkan peremajaan tanaman kelapa sawit yaitu Kelompok Tanda Mas sekitar 80 hektar dan Kelompok Tani Sejahtera sekitar 90 hektar.

Selain itu banyak kelompok tani yang tersebar di nomor-nomor daerah ini telah mengusulkan beberapa permintaan tanaman kelapa sawit di atas lahan seluas 345,68 hektar.

Tiga kelompok tani ini yakni KRP Sinar Abadi Desa Sungai Gading seluas 132.43 hektare, Kelompok Tani Cahaya Sejahtera Desa Talang Sakti seluas 120,47 hektare, dan kelompok tani Maju Bersama Desa Sungai Lintang seluas 92,78 hektare.

Pewarta: Ferri Aryanto
Editor: Risbiani Fardaniah
HAK CIPTA © ANTARA 2021

Leave A Reply

Your email address will not be published.