Hampir 20 Persen Wilayah Indonesia Telah Alami Musim Hujan

0


Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengaku, BMKG telah melakukan pemantauan perkembangan musim hujan 2021 hingga 2022. Saat ini hampir 20 persen wilayah zona musim di Indonesia telah memasuki musim hujan meliputi Aceh bagian tengah, Sumatera Utara, sebagian besar Riau, Sumatera Barat, Jambi.

Selain itu juga sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung bagian barat, Banten bagian timur, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah bagian barat, sebagian kecil Jawa Timur bagian selatan, sebagian Bali. Selanjutnya, Kalimantan Utara, sebagian besar Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian selatan dan timur, Kalimantan Tengah bagian timur, Pulau Taliabu, dan Pulau Seram bagian selatan.

Ia menambahkan, BMKG mencatat curah hujan tahun ini maju karena seharusnya baru dimulai November mendatang. Ini terlihat sebagian besar wilayah Indonesia yang memasuki musim hujan mulai Oktober, bahkan sebagian kecil wilayah telah mengalaminya September lalu.

BMKG memprediksi wlaya yang akan memasuki musim penghujan di bulan ini mulai dari Aceh bagian timur, Riau bagian tenggara, Jambi bagian barat, Sumatera bagian tenggara, Bangka Belitung, Banten bagian barat, Jawa Barat bagian tengah. Selanjutnya, Jawa Tengah bagian barat dan tengah, sebagian daerah DI Yogyakarta, sebagian kecil Jawa Timur, Kalimantan Tengah bagian timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, serta Kalimantan Utara.

Dwikorita melanjutkan, beberapa wilayah lainnya akan memasuki penghujan pada November hingga Desember secara bertahap dalam waktu yang tidak bersamaan.

“Secara umum sampai November 2021 diperkirakan 87,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan,” ujarnya, saat mengisi Konferensi Pers Virtual Waspada La-Nina dan Peningkatan Risiko Hidrometeorologi, Senin (18/10).

Kemudian pada Oktober ini, BMKG juga mencatat beberapa wilayah yang akan mencatatkan lagu-lagu musim dan perlu diwaspadai puting beliung atau cuaca ekstrem terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan. Dia melanjutkan, BMKG merekomendasikan rekomendasi daerah, masyarakat, dan semua pihak terkait dengan pengelolaan sumber daya air, dan pengurangan risiko sumber bencana yang mungkin merupakan fenomena fenomena La-Nina.

“Ini untuk menghadapi peningkatan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung, atau terjadinya badai tropis,” katanya.



Leave A Reply

Your email address will not be published.