Doni Monardo Ajak Semua Pihak Tuntaskan Stunting Bersama

0


Pemerintah maupun swasta diajak untuk terus menggenjot penumpasan gizi buruk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah maupun swasta diajak untuk terus menggenjot penumpasan gizi buruk dan pengerdilan untuk mencapai Indonesia Emas 2040. Kerja bersama perlu dilakukan termasuk menjaga sumber mata air dan menggerakkan konsumsi pangan lokal dan protein hewani.

Hal itu dikatakan mantan kepala BNPB, Letjen TNI (Purn) Doni Monardo yang saat ini menjadi pembina Yayasan Kita Jaga dalam acara Action Against Stunting Hub (AASH) yang digelar secara virtual. Dia mengatakan, untuk membentuk Indonesia Emas kesehatan harus memastikan kualitas lingkungan baik.

“Sejumlah hal yang ada di depan mata kita belum optimal pertama masalah sumber air. Mari menjaga sumber udara maka kita akan membantu mengentaskan masalah pengerdilan,” kata Doni dalam webinar, Sabtu (9/10).

Hal lain yang harus didorong konsumsi pangan lokal dan protein hewani. Protein hewani juga menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk tubuh yang baik dan otak yang cerdas.

“Di negara kita potensi ikan kita 12,5 juta ton. Potensi ikan nasional kita. Kemudian dilihat dari konsumsi ikan di negara kita jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya,” ujar Doni.

Sementara itu, Direktur SEAMEO RECFON Muchtaruddin Mansyur mengatakan, Action Against Stunting Day terus digencarkan untuk mencapai kunjungan Indonesia 2024 dan menargetkan SGD untuk menghapus semua masalah gizi buruk khususnya stunting.

“Aksi untuk mencapai penurunan pengerdilan secara global, mendorong dialog dan advokasi mengenai SDG2, Identifikasi prioritas dan visi bersama untuk penurunan pengerdilan, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dengan pemandangan berbagai aktor dan generasi,” kata Muchtaruddin.

Muchtaruddin mengatakan, untuk mencapai target penumpasan pengerdilan, seluruh elemen, baik pemerintah maupun nonpemerintah harus saling berkolaborasi. “Pengambil kebijakan, akademisi, polisi, pebisnis, dan organisasi juga harus ikut menyuarakan isu penumpasan permasalah stunting,” ucap Muchtaruddin.

Peneliti senior SEAMEO RECFON dan Country Lead AASH Indonesia Umi Fahmida mengatakan, AASH merupakan studi interdisiplin yang dilaksanakan di tiga negara (India, Indonesia, Senegal) dan Lombok Timur menjadi lokasi di Indonesia.

“AASH bertujuan untuk mempelajari tipologi faktor-faktor yang membentuk jalur menuju stunting (tipologi stunting) dengan pendekatan anak secara utuh (pendekatan seluruh anak) termasuk komponen fisik (gizi, epigenetik, kesehatan saluran cerna), lingkungan pengasuhan, pendidikan dan pangan,” kata Umi.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini mengatakan, masyarakat sipil menjadi salah satu pemeran penting dalan pengurangan pengurangan pengerdilan. Dia mengeklaim, Lazismu ikut berperan dalam pegangan pengerdilan di Indonesia.

Kontribusi program Lazismu sebagai salah satu program pencegahan stunting peningkatan kemampuan Gizi Seimbang Seluruh Indonesia di 34 Provinsi dan 462 Kabupaten/Kota,” ujar Aisyiyah.



Leave A Reply

Your email address will not be published.