Digitalisasi Bisa Perkuat Daya Saing Ekonomi Syariah: KNEKS

0


Jakarta (ANTARA) – Pengembangan dan penguatan digitalisasi ekonomi dapat membantu ekosistem syariah untuk meningkatkan daya saing terhadap ekonomi non syariah, kata Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Ventje Rahardjo.

“Jika ekonomi syariah dibangun atas dasar ekonomi digital, maka akan memiliki daya saing yang cukup terhadap ekonomi non syariah. Jadi, digitalisasi juga penting,” ujarnya saat menghadiri diskusi online ‘Indonesia Aims for the King’. dari Industri Halal’ pada hari Senin.

Dari sisi pemasaran, berbagai platform marketplace telah menyediakan sesi atau tempat khusus untuk memasarkan produk halal, jelasnya.

Selain itu, dari sisi sistem pembayaran, platform dompet digital (e-wallet) milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menawarkan layanan syariah, tambahnya.

Dalam satu tahun, jumlah peserta dompet digital meningkat menjadi 2,5 juta orang, kata Rahardjo.

Angka ini menunjukkan bahwa digitalisasi sudah menjadi kebutuhan di masyarakat dan diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan perkembangan gaya hidup dan penguatan bank syariah di Indonesia, tambahnya.

“Kita juga sudah melihat pemerintah memasang apa yang disebut QRIS (Quick Response Indonesia Standard). Mudah-mudahan ada di sekitar Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, sehingga masyarakat Indonesia bisa berbelanja melalui layanan syariah ini, dengan menggunakan QRIS Indonesia. ,” dia berkata.

Penguatan ekonomi digital menjadi salah satu strategi utama yang tertuang dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024, kata Rahardjo.

Tiga strategi lainnya adalah penguatan rantai nilai halal, penguatan keuangan syariah, dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), katanya.

Ia mengingatkan semua pihak untuk mendorong penguatan infrastruktur, misalnya dengan membangun sumber daya manusia (SDM), untuk pengembangan ekonomi syariah. KNEKS juga telah mengadakan diskusi dengan para akademisi dari program studi syariah di berbagai universitas di Indonesia.

Rahardjo menegaskan, potensi ekonomi produk halal dunia meningkat signifikan, namun Indonesia masih berkutat sebagai konsumen.

Sementara tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) proyek-proyek di industri halal akan meningkat menjadi 6,2 persen pada tahun 2024, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai belum mengoptimalkan potensi dan peluang ekonomi syariah. , ia mencontohkan.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong realisasi pembangunan ekonomi syariah lebih lanjut di Indonesia dengan membentuk Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) pada tahun 2020, tambahnya.

Berita Terkait: Wapres serukan inovasi, riset ekonomi syariah di universitas
Berita Terkait: Rantai nilai halal Indonesia terus berkembang: VP
Berita Terkait: Pesantren, ekonomi syariah berpotensi mendongkrak perekonomian nasional

Leave A Reply

Your email address will not be published.