Dampak bila remaja alami kurang gizi kronis

0



Jakarta (ANTARA) – Seorang remaja perempuan yang mengalami kurang gizi dan anemia dalam waktu lama karena dibiarkan terus menerus, dapat menimbulkan dampak buruk pada anak yang lahirkan kelak, salah satunya IQ lebih rendah.

“Dia akan menghasilkan keturunan yang perkembangan otaknya lebih rendah, terganggu akibat IQ lebih (10 poin). Ketika anak di sekolah dia punya kognitif yang lemah,” kata pakar nutrisi dari Universitas Indonesia, Dr Rita Ramayulis, DCN, MKes dalam konferensi pers berani, ditulis Sabtu.

Rita yang juga sebagai Ketua Indonesia Sport Nutriist Association (ISNA) itu mengatakan, masalah lain yang dapat muncul seperti pertumbuhan massa tubuh anak yang rendah menyebabkan kekebalan tubuh bekerja menurun.

Baca juga: Jadi vegetarian tak perlu kuatir kurang gizi

Akibatnya dia tidak bisa produktif, mudah lelah, memiliki keterbatasan gerak dan lainnya, diikuti keadaan metabolik yang mengarah pada penyakit tidak menular (PTM) salah satunya diabetes.

“Kalau awal remaja tidak akan segera berubah dia akan melahirkan stunting. Lalu generasi stunting itu mudah sekali mengalami gangguan metabolik, terkena diabetes lebih,” tutur Rita.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan kembang sejak usia 1000 hari pertama kelahiran (HPK). Kondisi ini umumnya terdiagnosis pada saat anak berusia 2 tahun yakni saat 70 persen otaknya sedang berkembang. Potensi stunting sebenarnya bisa dilihat 1000 hari pertama anak, salah satunya bila dia lahir dengan berat rendah (bblr). Pada kondisi ini, maka pemantauan seperti panjang badan dan berat badan dilakukan setiap pekan.

Rita mengatakan, masalah gizi remaja yang salah satunya berkontribusi pada kejadian stunting yang bisa diubah melalui penerapan gaya hidup yang sehat termasuk asupan makanan yang seimbang.

Jadi, kalau remaja berada dalam status gizi, berarti ketika suatu saat dia menjadi ibu, dia dalam kondisi malnutrisi. Kapanpun dia akan hamil, zat gizi di dalam tubuh sudah siap untuk menjaga janinnya,” kata dia.

Rita, makanan seimbang tak harus mahal. Sederet makanan yang relatif ramah di kantong semisal daun katuk, kangkung, ikan kembung, tempe, buah-buahan seperti pepaya bisa menjadi pilihan untuk memenuhi asupan gizi seseorang, namun tetap harus memperhatikan pengolahan yang tepat.

“Tempe yang mudah didapat sudah bisa menyelesaikan untuk memenuhi protein anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dengan pengolahan tepat. Sayur tidak harus mahal-mahal, kangkung jauh lebih bagus asal pengolahan tepat. Bahkan oncom pun karena kandungan gizi luar biasa,” demikian kata Rita.

Baca juga: Kurang asupan gizi sebabkan stunting hingga lemahkan otak

Baca juga: Ahli gizi: diet kurang dari 800 kalori sehari tak boleh sembarang

Baca juga: Ibu hamil kurang kalsium lebih cepat keropos tulang

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
HAK CIPTA © ANTARA 2021

Leave A Reply

Your email address will not be published.