China tidak akan Longgarkan Protokol Kesehatan Meski Dikritik

0


WHO mengkritik kebijakan nol Covid-19 China.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Otoritas China tidak akan melonggarkan protokol kesehatan ketat antipandemi Covid-19 meskipun mendapatkan kritikan dari berbagai pihak, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

China akan mengambil tindakan yang lebih tegas dan lebih cepat untuk menyaring dan mengisolasi kelompok berisiko Covid-19 dan menerapkan tes PCR secara reguler dalam menghadapi varian Omicron.

Ma Xiaowei, seperti dikutip media setempat, Selasa (17/5/2022), menambahkan akan melakukan riset vaksin khusus Omicron dan memperluas jangkauan untuk mendorong kalangan orang tua lanjut. Ia juga menegaskan kembali komitmennya terkait kebijakan nol kasus Covid-19 setelah gelombang kasus terparah menerjang Kota Shanghai dan Provinsi Jilin.

Perhatian terhadap pengendalian virus secara ketat menjadi suatu keharusan dan sesuai dengan Partai Komunis China (CPC), partai berkuasa di negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu. “Partai mengutamakan kepentingan rakyat dan keselamatan serta kesehatan rakyat kami adalah prioritas. Ini yang menjadi alasan dasar keputusan kami melalui pendekatan yang berbeda dalam menangani virus dibandingkan dengan beberapa negara Barat,” kata Ma dikutip Harian China.

Sebelumnya, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengkritik kebijakan nol Covid-19 China yang sering kali dibarengi dengan penerapan penguncian wilayah (kuncitara) karena kemungkinan pelanggaran hak asasi manusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China (MFA) Zhao Lijian langsung menanggapi kritik tersebut.

Ia mengatakan 1,5 juta nyawa warga China bisa saja melayang sia-sia jika pertandingan ketat tidak diterapkan. Kasus kematian di China sampai saat ini masih berkisar 4.000-an sejak pandemi mulai berlangsung pada awal 2020.

Sementara itu, sejak 22 April hingga saat ini Beijing masih menerapkan kuncitara secara parsial, bahkan wilayahnya diperluas. Sejak saat itu pula sampai saat ini sudah 10 putaran tes PCR digelar secara massal di 12 distrik di wilayah Ibu Kota.

Satu putaran biasanya diisi dengan tiga kali tes. Hingga Senin (16/5/2022), di Beijing terdapat 1.113 kasus baru.

Tes PCR massal juga digelar di satu kota kecil di Provinsi Sichuan, yang bertanding dengan Kota Chongqing. Otoritas setempat menggelar tes massal terhadap 495 ribu warga setelah dalam sepekan ditemukan 500 kasus positif.

sumber : Antara



Leave A Reply

Your email address will not be published.